Monday, April 30, 2007

MATERI PELATIHAN JURNALISTIK 28 APRIL 2007 : TULISAN YANG MEMIKAT LAMA DIINGAT

Penulisan Features:
Tulisan Memikat Lama Diingat [1]


Ignatius Haryanto [2]



Apa itu features? Menurut sebuah buku panduan yang dimiliki oleh Redaksi Majalah Tempo [3], maka features adalah: “…artikel yang kreatif, kadang-kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pmebaca tentang suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan”.

Terlalu abstrak? Mari kita lihat contoh di bawah ini:

“Seorang perempuan cantik di lapangan sepakbola. Jangan pernah berpikir dia sedang berlatih untuk peragaan busana. Diza Ali memang mantan perancang mode, tapi profesi yang ia jalani di lapangan hijau mengharuskannya tampil sangar.
Dan itu dia lakukan tanpa canggung. Sepuluh tahun silam, ketika Diza menjadi manajer Persija Jakarta Pusat, ia membawa timnya bertandang ke kandang Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Sepuluh November. Satu adegan dalam laga itu memancing emosi Diza. Pemain depan Persebaya, Yusuf Ekodono, membawa bola mendekati gawang Persija. Di tepi lapangan, dua hakim garis mengangkat bendera. Yusuf berada dalam posisi offside. Pertandingan mestinya dihentikan.
Tapi, tak ada suara peluit. Wasit tidak melihat bendera diangkat oleh hakim garis. Yusuf terus menggiring bola. Sementara pemain Persija terlanjur tak bergerak. Tanpa ampun Yusuf melesakkan bola ke gawang Persija. Dan, astaga, wasit mengesahkan gol itu!
Mau tahu yang dilakukan Diza? Ketika pemain Persija masih terpana, dari tepi lapangan Diza berlari, lalu satu tendangan kungfu mendarat di tubuh wasit. “Saya tak takut diberi sanksi,” ia mengenang aksinya. Ini jelas bukan perbuatan benar. Tapi orang kemudian sadar bahwa Diza bukan perempuan biasa.”
(“Diza Ali Rasyid, Cinta Seorang Diza,” Tempo, 24 Desember 2006, hal.72)

Mau melihat contoh lain:

“Setengah Berlari, tiga pria ‘menerobos’ Stasiun Pondok Ranji, Tangerang, Banten, Rabu pekan lalu. Mereka tak lewat pintu utama, tapi melalui sisi lain yang berbatasan dengan pinggiran rel. ini cara gratis menumpang kereta api. Namun hari itu mereka tak beruntung. Seorang petugas berseragam biru dengan topi putih tak kalah gesit menghadang para penerobos. Ketiganya digiring berbalik ke arah loket.” (“Memburu Penerobos Tak Berkarcis”, Muchamad Nafi, Tempo 18 Maret 2007, hal.108)

Dari dua contoh tadi kita telah melihat bagaimana sebuah kisah feature disampaikan kepada pembaca. Dan kita bisa menangkap apa isi tulisan tersebut, tidak pada alinea pertama (atau kerap disebut ‘lead’), tetapi baru pada baris-baris berikut dari tulisan yang sama.
Inilah yang membedakan tulisan features dengan tulisan berita langsung (straight news) dimana dalam penulisan berita langsung, mutlak berlaku prinsip penulisan model ‘Piramida Terbalik’ – yaitu prinsip yang mengutamakan hal yang terpenting dalam bagian awal tulisannya – sementara dalam penulisan features, yang paling penting adalah bagaimana menulis secara memikat, agar pembaca mau setia membaca yang ditulisnya hingga ke ujung tulisan.
Memikat di sini, artinya lalu bercerita dengan menarik, baik isi ceritanya itu sendiri, maupun cara penyampaiannya. Gaya penulisannya ringan, mengalir, dengan banyak bumbu. Pendek kata, gaya penulisan ini mirip menulis fiksi, namun semua yang disampaikan dalam tulisan features memiliki bahan yang tidak fiktif. Semuanya berlandaskan pada fakta-fakta yang ditemukan oleh si penulisnya.
Dari buku Seandainya Saya Wartawan Tempo, disebutkan tentang unsur-unsur yang perlu hadir dalam sebuah tulisan features, yaitu:
- kreativitas
- subjektivitas
- informative
- Menghibur
- Awet
- Panjangnya Tulisan

Mari kita bahas satu per satu.


Kreativitas

“Tidak seperti penulisan berita biasa, penulisan feature memungkinkan reporter ‘menciptakan’ sebuah cerita. Memang, ia masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat – karangan fiktif dan khayalan tidak boleh. Tapi dari suatu peristiwa atau keadaan seorang reporter bisa saja menggagas sebuah feature. Kemudian, setelah mengadakan penelitian dan mengumpulkan bahan terhadap gagasannya itu, ia menulis.” [4]
Dari banyak peristiwa atau tempat yang dikunjungi wartawan, cerita feature bisa hadir jika saja si wartawannya mau menggali cerita-cerita yang belum dituturkan. Susah-susah gampang, karena mencari cerita tak selalu berhasil juga.

Suara cempreng dan medok seorang bocah terdengar dari bilik di pojok ruang pertemuan sekolah. “..89,20 Mhz, radio ini mengudara dari Kompleks SD Negeri Baron 1, Jalan Gubernur Suryo Kilometer 3 Magetan…” Bocah itu Eko Adi Kristianto Wibowo namanya. Umurnya masih 10 tahun. Sehari-hari duduk di kelas IV sekolah yang sama.
Seusai sekolah, ia tak segera pulang. Di pojok sekolah itu Eko beralih profesi: menjadi penyiar radio. Hari itu ia akan membawakan acara favorit pemirsa: kartu kirim salam dari para pendengar. Sebagai acara yang ditunggu, Eko tahu bagaimana menghibur hati mereka. Sebuah lagu yang digandrungi pun ia putarkan.
(“Di Radio, Mari Berkirim Salam…”, Widiarsi Agustina, Sunudyantoro, Sohirin, Tempo 24 Desember 2006)


Subjektivitas

“Beberapa feature ditulis dalam bentuk “aku”, sehingga memungkinkan wartawan memasukkan emosi dan pikirannya sendiri. Meskipun banyak wartawan yang dididik dalam reporting obyektif, hanya memakai tehnik ini bila tidak ada pilihan lain, hasilnya enak dibaca.
Wartawan biasanya menyukai petualangan dan pengalaman, sambil mencari berita yang kadang-kadang menjadi sebuah tulisan menarik karena ditulis dalma bentuk ‘aku’. Misalnya, seorang wartawan melihat-lihat suasana sebuah negara Eropa Timur, dekat setelah komunisme runtuh. Ia catat pengalamannya mengurus visa. Ia ingat pula bagaimana petugas imigrasi negara itu ketika memeriksa paspornya. Petugas itu terheran-heran, sampai memelototi paspornya berlama-lama, kok ada orang Indonesia sampai di situ. Tapi, akhirnya petugas itu terbahak-bahak.
Lalu dalam perjalanannya, ia membuat catatan bagaimana sejumlah bekalnya yang sepele, dari sabun, sikat gigi sampai kembang gula, ketika mobil sewaannya ditinggal sebentar, raib. Ia pun mendapatkan kesan bahwa orang-orang di negara itu ingin sekali bicara pada orang asing, setelah sekian lama bercakap-cakap dengan orang asing ditabukan. Walhasil, pikiran dan pengalaman pribadinya menjadikan feature itu “hidup”. [5]
Mari kita lihat sebuah contoh lain:

Pada ketinggian 22 ribu kaki dan kecepatan 800 kilometer per jam, di jendela kursi 20A penerbangan Mandala RI-660 itu muncul sepenggal daratan-tegar dan angkuh. Penumpang kursi di 21B, yang saya kenal ketika pesawat stop over di Bandar Udara Hasanuddin, Makassar, menggamit dari belakang. “Itu Pulau Buru, Pak.” Katanya, dengan gaya pemandu wisata.
Lelaki malang, pikir saya. Tak tahu dia saya menghabiskan delapan tahun di pulau itu, delapan tahun dari usia paling produktif seorang manusia! Inilah untuk pertama kalinya saya menyaksikan Pulau Buru dari angkasa: betapa perkasa. Pulau dengan luas 9.000 kilometer persegi, berhias hutan sekitar 3,6 juta hectare, ini pernah jadi karantina bagi sekitar 13.000-an “tahanan politik” yang tidak pernah diajukan ke pengadilan manapun. Betapa ajaib.
(“Buru, Menziarahi Negeri Penghabisan”, Amarzan Loebis, Tempo 2 Oktober 2005)

Informatif

Feature, yang kurang nilai beritanya, bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam penulisan berita biasa di koran.
Wartawan bisa melihat sudut lain sehingga berita kecil itu bisa dianggap penting, layak dimuat, sebagai feature.

Pak Tupai melotot ke arah tangan anak yang mengelus-elus bulunya, tidak peduli pada cekikikan anak-anak yang tertawa kegirangan mengelilinginya. Pak Tupai mungkin tidak akan menerima tamu seperti itu lagi. Museum Sejarah Alam barangkali segera ditutup, karena kekurangan dana. [6]

Contoh lain bisa dilihat :

Apa yang bisa dikatakan tentang seutas tali? Kelihatannya sepele, karena kita bisa temui tali dimana-mana. Tetapi kisah tentang seutas tali juga bisa jadi suatu pintu masuk untuk tahu lebih banyak tentang suatu suku bangsa di Indonesia, khususnya untuk masyarakat suku Sumba di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kisah tentang seutas tali dan sejarah suku Sumba, itulah salah satu cara yang dilakukan oleh Museum Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kupang, untuk memperkenalkan keragaman suku bangsa yang bersebelahan propinsi dengan NTT tersebut. Dan kisah tentang tali ini pun bisa dipergunakan untuk membawa anak-anak usia sekolah dasar ikut terlibat dalam merangkai keragaman budaya serta adat istiadat di Sumba, sembari melakukan sejumlah permainan di dalamnya.
(Leonardus Nahak: “Museum Bukan Cuma Pajangan Barang Tua”, Ignatius Haryanto, liputan atas Museum NTT dan pameran kebudayaan Tionghoa di Nusa Tenggara Timur, naskah tidak diterbitkan)


Menghibur

Dalam 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi surat kabar dan majalah untuk bersaing dengan media elektronik.
Wartawan surat kabar mengakui bahwa mereka tidak akan bisa “mengalahkan” radio dan televisi dalam hal kecepatan penyampaian berita ke masyarakat. Wartawan radio dan TV bisa mengudarakan cerita besar hanya dalam beberapa menit setelah mereka tahu sesuatu telah terjadi. Sementara itu, wartawan Koran sadar bahwa baru beberapa jam setelah kejadian, pembacanya baru bisa tahu suatu kejadian setelah Koran diantar.
Tapi wartawan harian, apalagi majalh, bisa mengalahkan saingannya, radio dan TV, dengan cerita eksklusif. Ia juga bisa membuat versi yang lebih mendalam (indepth) mengenai sebuah cerita yang disiarkan radio. [7]

Orang Amerika tidak suka bola. Presiden Bill Clinton memang penggemar olahraga. Tetapi ia suka basket, bukan bola. Buat anak-anak Paman Sam, bola itu tidak ada istimewanya. Pantas kalau John Skow, kolumnis Time bilang, buat orang Amerika bola itu hanya seperti mencium adik perempuan sendiri.
Jika bola tidak populer di negeri Paman Sam, mengapa justru di sana Piala Dunia 1994 diramalkan bakal lebih hangat dan ramai daripada sebelumnya? Karena bola itu bukan sekedar bola! Hati orang Amerika tidak pada bola. Tetapi orang Amerika adalah jago dalam entertainment. Mereka tahu, bagaimana memanfaatkan kemampuan itu dalam menyertai pertandingan bola dunia, yang mempunyai nilai entertainment luar biasa.
Maka di Amerika akan terjadi banyak pesta pora, banyak pesona glamour dan perayaan meriah. Pada upacara pembukaan, Chicago akan ramai dengan pelbagai musik rakyat. Seterusnya, San Fransisco akan dihibur oleh Santana dan Placido Domingo. Pelbagai party dan tamasya akan diselenggarakan di Boston. Di Boston juga Julio Iglesias akan naik panggung.
(Sindhunata, “Di Tengah Jalan Pasadena”, Kompas, 6 Juni 1994, hal.1)


Awet

Menurut seorang wartawan kawakan, Koran kemarin hanya baik untuk bungkus kacang. Unsure berita yang semuanya penting luluh dalam waktu 24 jam. Berita mudah sekali “punah”, tapi feature bisa disimpan berhari, berminggu, atau berbulan-bulan. Koran-koran kecil sering menyimpan naskah yang tak melulu menyajikan berita keras (hardnews) dan yang disimpan itu kebanyakan feature.
Dari kacamata wartawan, feature mempunyai keuntungan lain. Tekanan deadline longgar, sehingga ia punya waktu cukup untuk mengadakan riset secara cermat, dan menulisnya kembali sampai mempunyai mutu yang tertinggi. [8]


“Sudah kerja berapa lama?”
“21 tahun.”
“Pangkat?”
“Sama dengan Anda. Dengar, saya pasti lulus. Bisakah Anda menjamin saya diberangkatkan ke Bosnia?”
Percakapan itu terjadi antara Letnan Kolonel Pengasihan Gaut dan seorang petugas PBB pada suatu hari di tahun 1999. Gaut, yang saat itu berusia 51 tahun, sedang menjalani tes bahasa Inggris untuk bergabung dalam kontingen Garuda ke Bosnia. Ia menantang si penguji, orang Irlandia, yang kemudian berjanji akan menulis surat khusus kepada Kepala Polri bila dia lulus.
Saat itu Gaut harus bersaing dengan lima letnan colonel. Ia satu-satunya perempuan. Juga hanya dia yang berasal dari kepolisian.
Benar saja, Gaut lulus. Sendiri. Belum pernah ada cerita perwira polisi memimpin kontingen pasukan ke luar negeri. Karena itu, teman-teman Gaut pun datang memberi ucapan selamat sembari berujar, “Jangan berharap banayk. Kamu tak mungkin pergi.
Dugaan sang teman meleset. Gaut terpilih memimpin kontingen Garud XIV-3 (1999-2000). Bersama anggotanya, 31 polisi pria. Gaut akhirnya pergi ke Bosnia. Dan dari 4.000-an polisi dari seluruh dunia yang bertugas di Bosnia dan Herzegovina, hanya ada sekitar 10 wanita. Yang jadi komandan kontingen cuma dia.
(“Pengasihan Gaut: Melerai Konflik di Bosnia”, Tempo, 24 Desember 2006, hal.66)


Panjangnya

Bila seorang reporter bertanya berapa panjang seharusnya ia membuat feature, editor mungkin menjawab, “Sepanjang anda menganggapnya masih menarik.”
Cerita feature panjangnya bervariasi dari dua atau tiga alinea sampai 15 atau 20 lembar ketik dua spasi (antara 500 hingga 50.000 karakter). Minat pembacalah yang harus jadi patokan.
Walaupun tidak ada batasan berapa panjang artikel harus dibuat, tidak berarti kita boleh menulis panjang, bertele-tele. Seorang penulis feature yang baik selalu sadar bahwa kata-kata yang tidak penting dan bertele-tele akan mengurangi kesempatan sebuah feature bisa dimuat. Kalaupun tulisan itu dimuat, pembaca akan cepat bosan dan segera melompat ke tulisan lain. [9]


Ia melihat bintang jatuh tengah malam, tiga thaun lalu, dalam perjalanan Denpasar-Cairns, Australia. Mula-mula sebuah, lama-lama jumlahnya berlipat. Itulah meteor shower, hujan meteor. Ia cepat berbisik, mengutarakan keinginannya: mengongkosi kedua orangtuanya pergi haji, dan memiliki sebuah mobil sport.
Tahun ini kedua orang tuanya berangkat ke Tanah Suci. Tentang mobil sportnya, ia tak harus menunggu lama lagi.
Isma Kania Dewi, 31 tahun, merasa beruntung melihat fenomena di langit Cairns yang hitam itu. Ia bersyukur, nasib telah menggiringnya ke kokpit pesawat. Waktu itu ia kopilot Garuda Indonesia – sekarang ia pilot Qatar Airways. Satu di antara enam pilot perempuan Indonesia yang mengemudi pesawat komersial.
(“Isma Kania Dewi dan Ida Fiqriah: Dari Curug ke Ujung Dunia”, Tempo, 24 Desember 2006, hal.76)

***

Nah anda telah membaca sejumlah prinsip utama dalam penulisan feature, pula sejumlah contoh telah anda cicipi. Sekarang mengapa tak mulai membuat tulisan yang memikat seperti itu. Satu dua kali mungkin terasa berat, tapi selanjutnya anda makin mahir dan lancar menggunakannya. Jadi … mari mencoba menulis feature sekarang ini juga. Sekian. Terima kasih.

[1] Dibawakan pada acara pelatihan penulisan oleh rekan-rekan pengelola media paroki di Paroki Katedral, 28 April 2007.
[2] Pendiri Lembaga Studi Pers dan Pembangunan di Jakarta. Menjadi wartawan sejak tahun 1994 di Majalah Forum Keadilan, D&R, dan Majalah Tempo. Menulis tak kurang dari 15 buah buku, dan aktif memberi kontribusi tulisan ke Kompas, Jakarta Post, Tempo, Majalah Basis, Majalah Hidup, pernah juga di majalah Playboy Indonesia, Ayah Bunda, Dewi, dan lain-lain. Karya tulis lain bisa di-Google atau di-Yahoo saja dengan menulis nama penulis. Selain itu juga menjadi anggota Aliansi Jurnalis Independen sejak tahun 1994, dan menjadi coordinator kelompok penulisan Agenda 18 sejak tahun 2002.
[3] Silakan lihat buku yang diedit oleh Bambang Bujono & Toriq Hadad, Seandainya Saya Wartawan Tempo, Jakarta: Institut Studi Arus Informasi, 1997, hal.9
[4] Seandainya … hal.9-10
[5] Seandainya … hal.11-12
[6] Seandainya … hal.12-14
[7] Seandainya … hal.14-15
[8] Seandainya … hal.16-17
[9] Seandainya … hal.17